KARAWANG/trexnews.id —
Upaya memutus mata rantai penularan tuberkulosis (TBC) terus digencarkan Puskesmas Kalangsari. Langkah proaktif dilakukan melalui kegiatan Active Case Finding (ACF) TBC Terintegrasi CKG yang dipusatkan di Kantor Desa Kalangsari, Senin (7/9/2026).
Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Plt. Kepala Puskesmas Kalangsari, Harnis Indriani, S.ST., M.M., bersama jajaran tenaga kesehatan. Skrining menyasar masyarakat yang dinilai memiliki risiko lebih tinggi, di antaranya lansia, penderita Diabetes Melitus (DM), warga yang memiliki kontak erat dengan pasien TBC, serta masyarakat umum.
Sejak pukul 07.30 WIB, tim kesehatan telah mempersiapkan seluruh kebutuhan pemeriksaan. Kegiatan kemudian dimulai pada pukul 08.00 WIB dengan arahan dari Harnis Indriani.
Tidak sekadar melakukan pemeriksaan, tenaga kesehatan juga memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya mengenali gejala TBC sejak dini. Penyuluhan tersebut dilakukan secara interaktif agar warga memahami bahwa deteksi dan pengobatan sedini mungkin menjadi bagian penting dalam memutus penularan.
Kegiatan melibatkan sejumlah tenaga kesehatan Puskesmas Kalangsari, di antaranya Isni selaku Programer TB Paru, dr. Maulana Agies, Alpi, Riga dari tim CKG, Fama dari bagian laboratorium, serta Tantri dari bagian administrasi.
Dukungan juga datang dari Kader TB Desa, Siti Marliah dan Deden, yang berperan menjembatani komunikasi antara petugas kesehatan dengan masyarakat. Sementara dari Dinas Kesehatan, kegiatan turut didampingi Hj. Any dan Eva.
Antusiasme masyarakat terlihat sepanjang kegiatan. Hingga pemeriksaan berakhir pada pukul 14.00 WIB, tercatat 100 warga mengikuti skrining.
Dari hasil pelacakan medis tersebut, ditemukan dua orang terduga TBC yang kemudian diarahkan untuk menjalani pemeriksaan lanjutan melalui Tes Cepat Molekuler (TCM). Selain itu, sebanyak 28 orang kontak erat dinyatakan memenuhi kriteria untuk mendapatkan Terapi Pencegahan TBC (TPT), sementara dua orang lainnya menjalani pemeriksaan Mantoux untuk mendeteksi infeksi TBC.
Menariknya, pelayanan tidak hanya berfokus pada deteksi TBC. Warga juga memperoleh pemeriksaan kesehatan umum secara gratis, termasuk pengukuran tekanan darah dan pemeriksaan gula darah.
Layanan terintegrasi tersebut mendapat sambutan positif dari masyarakat karena memberikan kesempatan bagi warga untuk mengetahui kondisi kesehatan secara lebih menyeluruh, termasuk mendeteksi faktor risiko penyakit tidak menular.
Puskesmas Kalangsari memastikan kegiatan tidak berhenti pada proses skrining. Seluruh data peserta akan ditindaklanjuti melalui penginputan ke dalam Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) dan ASIK CKG, sehingga masyarakat yang membutuhkan pemeriksaan atau pengobatan lanjutan dapat terus dipantau.
Langkah tersebut menjadi bagian dari komitmen Puskesmas Kalangsari dalam memperkuat sistem pelacakan, pemantauan, dan tindak lanjut kasus TBC secara berkelanjutan.
Di penghujung kegiatan, Plt. Kepala Puskesmas Kalangsari, Harnis Indriani, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan skrining, mulai dari Dinas Kesehatan, pemerintah desa, kader, hingga jajaran tenaga kesehatan.
Menurutnya, kolaborasi antara tenaga kesehatan dan masyarakat merupakan kekuatan utama dalam menghadapi TBC.
Dengan kegiatan skrining aktif dan edukasi yang terus diperkuat, Puskesmas Kalangsari berharap semakin banyak kasus TBC dapat ditemukan lebih awal dan segera ditangani, sehingga rantai penularan dapat ditekan dan masyarakat Kalangsari semakin dekat menuju wilayah bebas TBC.
(Red)*
Posting Komentar