Subang/Trexnews.id, _
Di balik dinding sebuah rumah sederhana di Desa Pabuaran, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Subang, tersimpan kisah perjuangan yang menguras air mata. Selama kurang lebih 12 tahun, Deni Rahmadi (36) berjuang melawan depresi yang kemudian memengaruhi kondisi kesehatan jiwanya. Sejak itu, hari-harinya lebih banyak dihabiskan di dalam rumah, jauh dari kehidupan yang dulu pernah ia jalani.
Di tengah kondisi tersebut, sang ayah, Kosim, tidak pernah menyerah. Meski hanya bekerja sebagai buruh harian dengan penghasilan yang tidak menentu, ia terus berupaya mencari jalan agar putranya dapat memperoleh pengobatan yang layak. Berbagai ikhtiar telah dilakukan, termasuk mengajukan permohonan bantuan kepada Pemerintah Desa Pabuaran, dengan harapan ada perhatian dan dukungan bagi proses pemulihan Deni.
Namun hingga kini, harapan itu belum juga menjadi kenyataan. Keterbatasan ekonomi membuat keluarga mengaku tidak mampu membiayai pengobatan secara berkelanjutan. Bagi Kosim, satu-satunya keinginan yang tersisa hanyalah melihat putranya mendapatkan kesempatan menjalani perawatan yang memadai agar perlahan dapat kembali menjalani kehidupan yang lebih baik.
Dengan penuh harap, Kosim juga memohon perhatian Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, agar pemerintah dapat membantu memfasilitasi pengobatan Deni. Menurutnya, bantuan tersebut bukan sekadar persoalan biaya, tetapi menjadi harapan besar agar anaknya memperoleh penanganan kesehatan jiwa yang dibutuhkan.
Menanggapi kondisi tersebut, Kepala Desa Pabuaran, Ristoyo, mengatakan bahwa persoalan Deni sebenarnya telah berlangsung cukup lama. Menurutnya, selama ini proses penanganan terkendala karena kurangnya respons dari pihak keluarga.
«"Kalau Deni itu sudah lama, cuma karena keluarganya tidak respon. Nah sekarang mah silahkan kalau mau ke KDM juga," ujar Ristoyo.»
Pernyataan tersebut langsung dibantah oleh pihak keluarga. Kosim mengaku kecewa karena merasa selama ini tidak pernah mendapatkan perhatian secara langsung dari pemerintah desa.
«"Kapan beliau ke sini? Jangankan ngasih makan, lihat juga nggak," ungkap Kosim dengan nada penuh kekecewaan.»
Perbedaan pernyataan antara pemerintah desa dan keluarga Deni menunjukkan masih adanya perbedaan pandangan mengenai proses pendampingan yang telah dilakukan. Di sisi lain, kondisi Deni yang telah berlangsung selama belasan tahun menjadi perhatian penting akan perlunya koordinasi dan akses layanan kesehatan jiwa yang lebih mudah dijangkau.
Kisah keluarga Deni Rahmadi menjadi pengingat bahwa masih ada warga yang berjuang menghadapi persoalan kesehatan jiwa di tengah keterbatasan ekonomi. Harapan mereka sederhana, yakni hadirnya kepedulian dari berbagai pihak agar Deni memperoleh pengobatan yang berkesinambungan. Sebab bagi keluarga ini, setiap uluran tangan bukan hanya sekadar bantuan, melainkan secercah harapan untuk mengembalikan masa depan seorang anak yang telah lama berjuang melawan penyakitnya.
(Red)*
Posting Komentar