Karawang/trexnews.id, _
Di saat pemerintah terus mendorong penguatan ekonomi pedesaan melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), harapan masyarakat Desa Cengkong, Kecamatan Purwasari, Kabupaten Karawang, justru tengah menghadapi ujian berat. BUMDes Melati Indah yang selama ini digadang-gadang menjadi motor penggerak perekonomian desa, kini terlihat kehilangan denyut aktivitasnya.
Sudah hampir sepekan terakhir, toko alat tulis dan perlengkapan sekolah yang dikelola BUMDes Melati Indah tampak tidak beroperasi. Pintu toko tertutup rapat tanpa aktivitas jual beli. Tidak lagi terlihat keramaian anak-anak sekolah maupun warga yang biasanya datang untuk membeli kebutuhan pendidikan.
Kondisi tersebut menimbulkan kekecewaan di tengah masyarakat. Sejumlah warga mempertanyakan keberlangsungan usaha yang telah mendapatkan dukungan modal cukup besar dari pemerintah desa.
"Bagaimana mau dapat keuntungan kalau tokonya tutup terus," ungkap salah seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan. Menurutnya, keberadaan toko tersebut bukan sekadar tempat usaha, melainkan simbol harapan masyarakat terhadap kebangkitan ekonomi desa yang kini terasa mulai meredup.
Saat dikonfirmasi, Ketua BUMDes Melati Indah, Neni, menjelaskan bahwa penutupan sementara toko terjadi karena kondisi kesehatan pengelola usaha yang sedang sakit.
"Pak Nurani-nya lagi sakit, jadi tokonya ditutup dulu," ujar Neni singkat.
BUMDes Melati Indah diketahui memiliki dua unit usaha utama, yakni usaha toko alat tulis dan seragam sekolah serta unit usaha ketahanan pangan. Untuk mendukung operasionalnya, Pemerintah Desa Cengkong telah menggelontorkan modal awal sebesar Rp150 juta bagi usaha toko alat tulis. Selain itu, dana sebesar Rp214 juta juga telah dialokasikan untuk pengembangan program ketahanan pangan.
Namun di balik besarnya dukungan anggaran tersebut, muncul sejumlah pertanyaan dari masyarakat terkait pola pengelolaan yang diterapkan. Dalam praktiknya, unit usaha ketahanan pangan dikelola langsung oleh Ketua BUMDes, Neni, sementara usaha toko alat tulis menjadi tanggung jawab Nurani.
Pembagian kewenangan tersebut dinilai sebagian warga telah menimbulkan kesan adanya dua pusat kepemimpinan dalam satu lembaga. Akibatnya, koordinasi antarunit usaha dinilai tidak berjalan optimal dan berdampak pada terhambatnya aktivitas usaha.
"Seharusnya semua usaha itu dikelola dan dipertanggungjawabkan oleh ketua BUMDes, bukan dibagi-bagi begitu," ujar seorang tokoh masyarakat setempat.
Kondisi yang terjadi saat ini menjadi perhatian warga yang berharap BUMDes Melati Indah dapat segera bangkit kembali. Bukan hanya pulih dari kendala kesehatan pengelola yang tengah sakit, tetapi juga melakukan pembenahan dari sisi manajemen, tata kelola, serta memperkuat semangat kebersamaan dalam menjalankan usaha desa.
Bagi masyarakat Desa Cengkong, BUMDes bukan sekadar lembaga bisnis yang mengejar keuntungan. Lebih dari itu, BUMDes adalah simbol kemandirian desa, wadah pemberdayaan masyarakat, sekaligus denyut nadi ekonomi yang membawa harapan akan kehidupan yang lebih sejahtera.
Kini, harapan itu masih menunggu untuk kembali menyala.
(Red)*
Posting Komentar